MEMPERKUAT TATA KELOLA DAN LAYANAN DI JURUSAN PGMI MENUJU AKREDITASI INTERNASIONAL

MEMPERKUAT TATA KELOLA DAN LAYANAN DI JURUSAN PGMI MENUJU AKREDITASI INTERNASIONAL

Oleh:

Dr. Ahmad Arifuddin, M.Pd. (Ketua Jurusan PGMI)

Tantangan pendidikan tinggi pada era globalisasi menuntut lembaga akademik untuk terus meningkatkan kualitas tata kelola, layanan, dan reputasi kelembagaannya. Jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) sebagai salah satu lembaga yang bertanggung jawab mencetak calon pendidik profesional membutuhkan sistem tata kelola yang tidak hanya memenuhi standar nasional, tetapi juga mampu mencapai standar internasional. Langkah menuju akreditasi internasional menjadi momentum penting untuk melakukan evaluasi menyeluruh dan mengokohkan budaya mutu yang berkelanjutan.

Akreditasi internasional pada hakikatnya bukan sekadar pengumpulan dokumen atau pemenuhan standar administratif. Lebih dari itu, akreditasi internasional merupakan pengakuan dunia terhadap kualitas tata kelola, pembelajaran, penelitian, dan layanan yang diberikan oleh sebuah institusi. Oleh Karena itu, upaya yang dilakukan Jurusan PGMI harus bersifat sistemik, terukur, dan berorientasi pada pembangunan ekosistem akademik yang unggul serta adaptif terhadap perubahan.

Penguatan tata kelola kelembagaan merupakan langkah awal yang sangat fundamental. Tata kelola yang baik mencerminkan komitmen jurusan terhadap prinsip-prinsip akuntabilitas, transparansi, efisiensi, partisipasi, serta orientasi pada mutu. Prinsip-prinsip inilah yang menjadi fondasi penting bagi keberhasilan proses akreditasi, baik dalam lingkup nasional maupun internasional. Salah satu tantangan yang sering dihadapi jurusan PGMI adalah konsistensi komunikasi dan koordinasi internal. Ketidakterpaduan informasi dapat mengakibatkan ketidaksinkronan pelaksanaan program, keterlambatan layanan, maupun ketidakjelasan prosedur. Oleh karena itu, perlu dikembangkan mekanisme komunikasi berbasis sistem informasi yang mampu mengintegrasikan informasi akademik, administratif, dan kelembagaan secara real time sehingga memudahkan semua pemangku kepentingan. Penyusunan Standard Operating Procedures (SOP) yang komprehensif juga menjadi elemen kunci dari tata kelola yang profesional. SOP yang jelas, terdokumentasi, dan diterapkan secara konsisten akan meningkatkan efektivitas layanan serta memperkuat bukti kepatuhan terhadap standar mutu. Dalam konteks akreditasi internasional, keberadaan SOP yang baku menunjukkan bahwa jurusan memiliki budaya kerja yang terstandarisasi dan berkelanjutan.

Selanjutnya adalah transformasi digital. Transformasi digital dalam layanan kelembagaan harus terus dikembangkan sebagai salah satu strategi yang efektif. Penggunaan platform digital untuk layanan akademik, administrasi perkuliahan, bimbingan skripsi, konsultasi mahasiswa, hingga monitoring tridarma perguruan tinggi akan meningkatkan transparansi dan produktivitas. Sistem digital juga memudahkan pendataan dan pelaporan, yang menjadi salah satu aspek penting dalam penilaian akreditasi internasional. Namun demikian, digitalisasi tidak dapat berjalan optimal tanpa dukungan SDM yang kompeten. Oleh karena itu, pelatihan terkait manajemen layanan, penjaminan mutu, teknologi informasi, dan komunikasi publik sangat penting untuk memastikan bahwa seluruh komponen jurusan mampu bekerja sesuai standar internasional.

Dalam proses menuju akreditasi internasional, kepemimpinan jurusan juga memiliki peran strategis. Ketua Jurusan dan sekretaris Jurusan harus memiliki kepemimpinan yang visioner, kolaboratif, dan responsif terhadap perubahan. Kepemimpinan yang demikian akan membangun suasana kerja yang positif dan memperkuat rasa memiliki (sense of belonging) di kalangan dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa.

Layanan informasi publik juga menjadi indikator penting dalam tata kelola modern. Jurusan PGMI perlu menyediakan pusat informasi digital yang mudah diakses, mulai dari website jurusan, dashboard layanan, kanal pengaduan, hingga laporan kegiatan tahunan. Keterbukaan informasi seperti ini tidak hanya meningkatkan kepercayaan publik, tetapi juga menunjukkan bentuk akuntabilitas yang relevan dengan standar internasional. Di samping itu, penguatan jejaring kerja sama juga merupakan komponen yang tidak terpisahkan dari persiapan akreditasi internasional. Jurusan PGMI perlu memperluas kerja sama dengan sekolah dasar, madrasah, perguruan tinggi nasional dan internasional, serta lembaga profesi guru. Kolaborasi ini akan mendukung peningkatan mutu kurikulum, pengayaan pengalaman mahasiswa, serta pengembangan kompetensi dosen melalui riset dan pertukaran akademik.

Pada aspek layanan mahasiswa, jurusan perlu mengembangkan sistem pendampingan akademik dan non-akademik yang komprehensif. Mahasiswa harus memperoleh akses yang mudah terhadap bimbingan akademik, konseling, kegiatan pengembangan soft skills, dan dukungan beasiswa. Kepuasan mahasiswa merupakan indikator penting dalam penilaian akreditasi internasional karena mencerminkan kualitas layanan yang diberikan jurusan. Forum diskusi, survei kepuasan layanan, dan pelibatan mahasiswa dalam unit-unit kerja akan menumbuhkan budaya partisipatif dan memperkuat hubungan emosional mahasiswa dengan jurusan. Semangat kolaboratif seperti ini sangat diperlukan dalam rangka membangun jurusan PGMI yang berorientasi pada mutu.

Selain itu, peningkatan kualitas dosen juga menjadi prioritas utama lainnya. Jurusan harus menyediakan dukungan yang memadai bagi dosen dalam bidang publikasi ilmiah, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Kegiatan pelatihan penulisan artikel bereputasi internasional, pendampingan penelitian, serta forum kajian rutin dapat meningkatkan kualitas akademik dosen dan sekaligus memperkuat portofolio jurusan di tingkat nasional dan internasional. Selanjutnya, proses monitoring dan evaluasi (monev) harus dijadikan bagian dari budaya kelembagaan. Pelaksanaan monev secara berkala terhadap layanan akademik, kegiatan tridarma, penyelenggaraan administrasi, dan capaian program kerja menjadi dasar penting dalam memastikan keberlanjutan perbaikan. Hasil monev harus didokumentasikan dengan baik dan ditindaklanjuti melalui kebijakan perbaikan yang nyata. Seiring dengan penguatan tata kelola dan layanan, jurusan PGMI juga perlu mengembangkan rencana strategis jangka panjang yang berorientasi pada pencapaian akreditasi internasional. Rencana strategis ini harus disusun berdasarkan analisis kebutuhan, potensi sumber daya, serta peluang pengembangan jejaring akademik di tingkat global.

Seluruh upaya tersebut pada akhirnya bermuara pada terbentuknya budaya mutu yang kuat. Budaya mutu bukanlah kegiatan yang dilakukan sesaat ketika akreditasi mendekat, tetapi merupakan kebiasaan kerja yang menjadi bagian dari identitas jurusan. Dengan budaya mutu yang baik, proses menuju akreditasi internasional akan berjalan lebih lancar dan bermakna. Komitmen kolektif dari seluruh dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, dan pimpinan jurusan merupakan faktor penentu kesuksesan transformasi ini. Perubahan tata kelola dan layanan harus dipahami sebagai kebutuhan bersama, bukan hanya instruksi administratif. Semangat kebersamaan inilah yang akan memperkuat daya dorong jurusan dalam mencapai standar internasional.

Dengan demikian, penguatan tata kelola dan layanan kelembagaan Jurusan PGMI merupakan langkah strategis menuju akreditasi internasional yang tidak hanya berorientasi pada pemenuhan standar, tetapi juga pada peningkatan kualitas secara menyeluruh. Melalui kerja kolaboratif, inovasi berkelanjutan, dan komitmen pada pelayanan prima, Jurusan PGMI FITK UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon berpotensi menjadi institusi yang unggul dan diakui, sekaligus memberikan kontribusi signifikan dalam memajukan pendidikan dasar di Indonesia.

Scroll to Top