Jum’at (28/10) Jurusan Pendidikan Guru MI (PGMI) menggelar Seminar Nasional. Kegiatan tersebut mengangkat tema “Metode Jari Aljabar dalam Pembelajaran Matematika di MI ; dengan Jari Aljabar, Belajar Matematika Lebih Mudah, Cepat dan Cerdas”. Kegiatan yang diadakan di Auditorium Lantai III Gedung Rektorat IAIN Syekh Nurjati Cirebon ini menghadirkan seorang narasumber, yaitu Bapak Bachruddin MD (Penemu sekaligus Pemegang Hak Cipta Metode Jari Aljabar).
Kegiatan yang diawali dengan penampilan PGMI Voice ini dihadiri oleh lebih kurang 125 peserta, terdiri dari dosen, mahasiswa, dan perwakilan guru MI se-Kota dan Kab Cirebon. Dalam sambutannya, Syibli Maufur (Kajur PGMI) menyampaikan bahwa terselenggaranya Seminar Nasional yang mengupas tentang Metode Jari Aljabar dalam Pembelajaran Matematika di MI ini merupakan upaya Jurusan PGMI dalam memfasilitasi mahasiswa maupun guru-guru MI dalam mengembangkan keilmuannya, khususnya dalam belajar matematika . “Kami berharap dengan terselenggaranya seminar nasional ini dapat memberikan tambahan pengetahuan kepada para mahasiswa dan guru-guru MI dalam mempelajari matematika, khususnya materi operasi hitung matematika” ungkapnya.
Dr. H. Ilman Nafi’a, M.Ag. selaku Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan saat membuka seminar nasional menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas terselenggarannya seminar nasional yang mengupas tentang metode jari aljabar tersebut. Lebih lanjut Dekan FITK ini berharap jalinan komunikasi yang sudah terbangun antara jurusan PGMI dengan Jari Aljabar Pusat ini dapat terus diperkuat dengan kerjasama-kerjasama lainnya. “saya berharap di masa yang akan datang, Jari Aljabar dapat membuka cabang baru di kota Cirebon” tuturnya.
Sementara itu, Bachruddin MD saat menjadi narasumber dalam seminar nasional tersebut menyampaikan bahwa proses pembelajaran matematika yang terjadi di sekolah-sekolah saat ini masih menggunakan metode menghafal, suasana belajar monoton, tegang dan menakutkan, jarang memberikan apresiasi/hadiah kepada siswa yang berhasil mengerjakan tugasnya bahkan kadangkala soal-soal yang diberikan kepada siswa adalah soal-soal yang belum dipahami ataupun dipelajarinya.
Untuk itu, untuk mengatasi permasalahan tersebut metode jari aljabar adalah solusinya. Dalam belajar matematika menggunakan metode jari aljabar, proses pembelajaran diawali dengan pemahaman, logika dan kaidah matematika yang baik dan benar, suasana belajar menyenangkan, memberikan apresiasi kepada siswa yang berhasil, serta dalam metode jari aljabar tidak diperkenankan memberikan latihan soal yang belum dipahami apalagi belum dipelajari siswa. Selain itu, dalam metode jari aljabar guru akan selalu membimbing anak belajar matematika hingga anak benar-benar mengerti dan paham, kemudian memberikan motivasi, apresiasi, pujian, dan menumbuhkan kepercayaan diri. Metode jari aljabar memandang bahwa semua siswa adalah pintar dan memiliki bakat untuk dapat belajar matematika dengan baik.
Penerima Rekor Muri ini menambahkan bahwa jari aljabar berbeda dengan jarimatika. Jari aljabar dikonsep secara orisinil, tidak mengadopsi sempoa atau lainnya, menggunakan bilangan basis 10 sesuai kaidah matematika, dan menggunakan lambang bilangan yang konsisten serta jari aljabar lebih mudah, cepat dan cerdas. (Arifuddin)